Bundesliga lebih akrab dengan Bayern Munich. Musim ini 2018/19 Borussia Dortmund keluar ulang sebagai pengganggu melawan monopoli Bavaria, seperti sebagian tahun yang lalu. Tapi tersedia tim lain yang selalu mengambil perhatian, terlebih di dalam tiga musim terakhir: RasenBallsport Leipzig. Jika dua musim pada mulanya Leipzig menjadi diskusi karena mereka sanggup mendorong papan atas ketika mereka pertama kali dipromosikan ke divisi paling atas di musim 2016-17 – bahkan segera di daerah ke-2 – musim ini Leipzig terlampau berterima kasih atas kekokohannya pertahanan. Peringkat ketiga ketika artikel ini ditulis (minggu 27), Leipzig menjadi tim yang dianggap kesebelas. Hanya 20 gol yang dicetak melawan Leipzig. Bayern, yang telah memenangkan Bundesliga di dalam enam musim terakhir, telah kebobolan 28 gol. Borussia Dortmund, yang mempunyai peringkat lebih sering musim ini, telah memberi 30 gol. Dengan tujuh pertandingan tersisa, Leipzig sanggup mendaftarkan kuantitas gol balasan yang lebih baik daripada musim 2016/17 ketika mereka bersaing dengan pembalap dengan 39 gol.

Selain itu, Leipzig ulang ke papan atas sehabis musim lalu dan hanya sanggup capai daerah keenam di akhir musim. Ralf Rangnick menjadi tokoh mutlak di balik energi saing Leipzig di puncak Bundesliga. Filosofi sepakbola reaktif, yang didasarkan terhadap transisi berasal dari pertahanan ke serangan, menjadi senjata Rangnick yang paling mutlak dengan merepotkan lawan untuk mematahkan obyek Leipzig. Sepak bola terakhir telah memperkenalkan banyak tim yang memainkan langkah-langkah pendek berasal dari kiper untuk menyerang. Pada fase serangan, penjaga dan bek – terlebih bek tengah – bertanggung jawab atas “melalui tim mana yang dapat menyerang?”

Gol dan bek tengah wajib mahir di dalam mengimbuhkan umpan akurat, sambil mengakibatkan ketetapan yang pas untuk menyerang daerah terlemah lawan, baik melalui umpan pendek dan umpan panjang. Karena mempunyai bola, itu dianggap sebagai indikasi “keunggulan” tim yang sanggup menghindar lebih banyak bola, yang juga berarti sanggup menyerang lebih banyak. Namun Rangnick tidak terpengaruh oleh sepak bola posesif yang jadi tumbuh sehabis arti tiki-taka dianggap sebagai rahasia Barcelona dan Spanyol mengendalikan sepakbola dunia sebagian tahun lalu. Pria itu, lahir terhadap 29 Juni 1958, terus mengandalkan serangan balik sebagai usaha besar untuk membobol gawang lawan. Dia lebih senang tim yang kuat di pertahanan, tapi sanggup dengan cepat membuat perubahan keadaan pertahanan menjadi keadaan menyerang.

Sepak bola punya sendiri diiklankan sebagai sepakbola penyerang. Karena di dalam kepemilikan sepak bola tersedia jargon penikmat filosofis: “Anda tidak dapat mengakui jikalau Anda mempunyai bola”. Tapi sepak bola Rangnick adalah antitesis di dalam arti: “Anda tidak dapat kehilangan bola jikalau Anda belum menguasainya”. “Anda sanggup melewatkan kepemilikan, itu dapat berakhir dengan sendirinya. Kecepatan di dalam permainan terlampau penting. Jika Anda tidak menaikkan [kecepatan] ke gigi keenam, Anda tidak sanggup menang melawan Panama atau Korea Selatan,” kata Rangick mengenai Süddeutsche Zeitung di Piala Dunia 2018.

Seperti Jürgen Klopp, Roger Schmidt, Thomas Tuchel atau Marco Rose, filosofi sepak bola Rangnick sama dengan sepakbola transisi, terlebih berasal dari pertahanan ke serangan. Serangan balik cepat di dalam model sepakbola Jerman bukanlah perangkat pertahanan yang di dalam yang menunggu lawan sebelum akan menyerang. Sepak bola Jerman, seperti yang juga dianalisis Jonathan Wilson, lebih baik diambil kesimpulan sebagai sepak bola reaktif. Lebih khusus lagi, jikalau Klopp, Schmidt dan Rose terlampau identik, secara agresif capai bola di pertahanan lawan ketika lawan memulai serangan (tekanan tinggi), sepak bola Rangnick adalah sesuatu yang lain. Para pemain terkemuka tidak menekan segera terhadap bek atau kiper yang memegang bola.

Upaya untuk secara agresif menangkap bola hanya ketika bola menyerang dikirim berasal dari lawan ke lini tengah atau bagian tengah. Tapi tujuannya selalu sama: lawan kehilangan bola di fase pertama untuk memulai serangan dan kemudian serangan balik secepat mungkin. Rangnick sendiri dianggap sebagai “profesor sepakbola” dengan semua ilmu mengenai taktik dan strategi. Rangnick telah menjadi pelatih sejak 1983. Saat itu ia adalah pelatih dan pemain tim bernama Viktoria Backnang. Meski usianya 25 tahun.

Pada tahun 1998 ia bicara banyak mengenai pentingnya transisi dan mendorong pembentukan empat pemain belakang di sebuah acara yang disebut ZDF Sportstudio (sebagai Pertandingan Hari Ini di Inggris). Bahkan begitu banyak yang tidak sepakat dengan nama panggilan profesor di Rangnick karena ia hanya seharusnya sadar teorinya, bukan terhadap praktiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Pixel Theme Studio. All rights reserved.